Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 November 2012

Drs. Makmur Keliat Ph. D: Ya Harus Dapat ‘Nobel’ Dulu Dari Indonesia



Nobel yang biasanya diterima oleh seorang tokoh atau sebuah organisasi, tahun ini terlihat berbeda karena peraih nobel perdamaian 2012 adalah kesatuan negara Uni Eropa (UE) yang mengakibatkan pro dan kontra dari berbagai pihak karena mereka merasa bahwa UE tidak berhasil memakmurkan negara mereka sendiri dari krisis ekonomi berkepanjangan yang mengakibatkan kekacauan sosial sehingga banyak perang yang terjadi. Bahkan menurut Nigel Farage, pemimpin partai independen, Komite Norwegia memberikan penghargaan nobel kepada UE hanya sebagai “rasa humor” belaka karena UE telah menyebabkan kemiskinan dan pengangguran.
Lain halnya dengan Makmur Keliat. “Krisis keuangan di Eropa jangan dibayangkan seperti krisis keuangan yang dialami Indonesia pada tahun 1998. Kita itu tidak memiliki mekanisme regional untuk mengatasi krisis itu sangat berbeda dengan Uni Eropa,” ujar Makmur. Bertolak belakang dengan pendapat sebagian besar orang, Makmur justru menganggap bahwa UE pantas pendapatkan penghargaan tersebut karena UE memiliki banyak prestasi besar. Dan menurutnya, para peraih nobel bukan berarti mereka telah bisa menghilangkan sebab-sebab terjadinya konflik kekerasan, melainkan mereka melakukan sesuatu agar setidaknya kekerasan itu tidak terjadi.
Ditemui di Departemen Jurusan Hubungan Internasional (HI), Gedung Nusantara II, Universitas Indonesia, Senin, 5 November 2012, pukul 13.00, Makmur Keliat, salah satu dosen HI menuturkan pendapat-pendapat lainnya kepada saya selama 36 menit saat wawancara berlangsung seputar peraih nobel perdamaian 2012 dan apa yang harus dilakukan oleh Indonesia bila ingin melebarkan sayapnya di ranah nobel.



 Nobel itu kan biasanya diberikan kepada tokoh atau organisasi, tapi buat nobel perdamaian 2012 ini yang menerimanya itu negara. Bagaimana pendapat Bapak?
Ya wajar saja kalau yang dapat negara, tidak masalah. Sebenarnya perdamaian itu definisinya bisa banyak, setidaknya ada dua konsep perdamaian di Indonesia, yang pertama perdamaian dalam konteks ketiadaan kekerasan. Yang kedua kesejahteraan, maknanya menghilangkan sebab-sebab yang memunculkan konflik kekerasan. Dalam pengertian yang pertama, indikatornya sangat jelas yaitu terhentinya konflik bersenjata. Sementara dalam pengertian ke dua, perdamaian itu lebih luas, dilihat pada sumber-sumber munculnya konflik bersenjata.
Uni Eropa kan sedang mengalami krisis ekonomi yang mengakibatkan kekacauan sosial, tapi ia memperoleh penghargaan nobel dan banyak yang tidak setuju dengan hal itu. Bagaimana pendapat Bapak?
Prestasi terbesar Uni Eropa sebenarnya adalah kawasan itu tidak pernah terlibat perang di antara anggotanya dan tidak pernah ada konflik kekerasan yang derajat kecil selama puluhan tahun terakhir. Saya kira, itu merupakan suatu prestasi yang luar biasa. Kalau dilihat dalam konteks negative piece (perdamaian negatif, tiadanya kekerasan), maka apa yang telah dicapai oleh Uni Eropa sangat luar biasa. Berbeda dengan kasus kawasan Asia Selatan antara India dengan Pakistan, kerja sama regional di Asia Selatan sangat berbeda dengan Uni Eropa. Kita bisa melihat, ada konflik-konflik yang cukup memakan korban. Demikian juga di Asia Tenggara, memang tidak ada konflik bersenjata yang besar, namun ada kasus kekerasan, potensi kekerasan seperti Malaysia dengan Indonesia. Kalau kita bandingkan dengan beberapa kawasan ini, maka prestasi Uni Eropa itu luar biasa. Terkait dengan krisis ekonomi yang dihadapi oleh Uni Eropa, saya kira tidak separah seperti yang dibayangkan. Jadi, krisis keuangan di Eropa jangan dibayangkan seperti krisis keuangan yang dialami Indonesia pada tahun 1998. Kita itu tidak memiliki mekanisme regional untuk mengatasi krisis itu sangat berbeda dengan Uni Eropa. Uni Eropa jauh lebih baik karena memiliki bank central Eropa, mereka memiliki mata uang tunggal, dan ketika krisis terjadi, saya kira kesiapan mereka secara kelembagaan jauh lebih baik dibandingkan dengan Asia ada tahun 1998. Jadi, krisis keuangan di Uni Eropa tidak mengakibatkan kelaparan dan tidak terjadi pengangguran yang sangat luar biasa.
Jadi, bapak tidak setuju bila banyak yang menentang Uni Eropa menerima nobel perdamaian dunia, tapi ia terkena krisis ekonomi?
Saya kira krisis ekonomi itu sesuatu yang lebih merupakan gejala global.
Alasan dipilihnya Uni Eropa sebagai peraih nobel karena menurut Komite Norwegia nobel perdamaian itu untuk yang masih menyelesaikan masalahnya, bukan penyelesaian masalahnya. Berarti para pemenang nobel itu belum tentu punya tindakan konkret yang menunjukkan mereka berhasil melakukan perdamaian dunia?
Kalau untuk Uni Eropa itu luar biasa, mereka percaya pada demokrasi, hak asasi manusia dan salah satu yang hampir tidak terbantahkan, tidak ada anggota Uni Eropa yang tidak berlandaskan pada penghormatan hak asasi manusia dan demokrasi. Itu sebabnya Turki sampai sekarang tidak menjadi anggota Uni Eropa. Aturan yang diberikan oleh Uni Eropa adalah karena masih ada persoalan kekerasan di sana sehingga Uni Eropa merasa Turki belum layak untuk menjadi anggota Uni Eropa walaupun negeri itu berdemokrasi.
Kriteria apa yang harus dipenuhi oleh seseorang atau organisasi agar ia layak mendapatkan nobel perdamaian?
Saya kira dedikasi ya. Dedikasi itu you do something with the entire of your heart. Seperti Palang Merah, itu kan dedikasi yang dilakukan tanpa pamrih yang kadang membahayakan jiwanya sendiri. Bukan sesuatu yang dilakukan dengan begitu mudah. Yang kedua, coba lakukan ketika orag mengatakan itu tidak mungkin, dan yang ketiga itu dilakukan tanpa pamrih. Saya kira itu.
Kalau menurut bapak, apakah dengan diberinya penghargaaan nobel, mereka membantu menyelesaikan masalah perdamaian dunia tidak? Sebab ada penerima nobel seperti San Suu Kyi yang menggembar-gemborkan masalah HAM di Myanmar, tapi ia sendiri menutup mata atas apa yang menimpa Rohingya.
Begini, para peraih nobel itu bukan berarti bahwa mereka bisa menghilangkan sebab-sebab terjadinya konflik kekerasan, tapi mereka melakukan sesuatu agar setidaknya kekerasan itu tidak terjadi, tapi tidak menghilangkan sebab-sebab kekerasan. Kan dua hal yang berbeda to? Jusuf Kalla misalnya, kan dianggap berperan penting untuk menghentikan kekerasan itu. Tapi dia bukan orang yang bisa menghilangkan sebab-sebab munculnya kekerasan. Saya kira dua hal yang harus dibedakan. Bukan berarti dia pemeraih nobel, jadi langsung terjadi perdamaian. Tidak seperti itu.
Jadi, gunanya nobel perdamaian itu utuk apa?
Untuk menunjukkan sesuatu itu masih bisa dilakukan.
Bukan berarti bisa diatasi
Iya. Sebab-sebab orang melakukan kekerasan kan banyak, karena masalah ekonomi, bisa masalah militer, bisa masalah perdaulatan yang hadir bersama kita. Pemenang hadiah nobel bukan berarti mereka bisa menghilangkan sebab-sebab itu, tetapi bagaimana membuat sebab-sebab itu tidak muncul dalam suatu konflik kekerasan.
Menurut Bapak, nobel itu ada kepentingan politiknya tidak?
Tentu saja ada. Biasanya pemenang hadiah nobel itu untuk tokoh-tokoh yang memperomosikan deokrasi dengan hak asasi manusia.
Kenapa hanya yang mempromosikan hak asasi manusia dan...
Karena demokrasi dan hak asasi manusia kan nilai-nilai yang mempromosikan anti kekerasan. Orang yang menjunjung tinggi demokrasi dan hak asasi manusia pasti tidak akan mendukung penggunaan kekerasan untuk mewujudkan perdamaian.
Faktor-faktor apa yang memengaruhi perdamaian dunia?
Banyak sekali, tapi secara umum, ada dua hal. Pertama, ketiadaan kekerasan, ada yang menyebabkan kekerasan bisa dibawa pada dua hal, faktor-faktor militer dan faktor-faktor nonmiliter. Faktor militer itu misalnya konflik teritorial yang kemudian merujuk pada perebutan wilayah. Yang kedua, faktor nonmiliter, misalnya perebutan sumber daya.
Hubungannya masalah pangan dengan perdamaian dunia apa, Pak?
Konflik sumber daya alam, yang non militer itu.
Gara-gara pangan, bisa jadi perang ya, Pak?
Bisa saja, tetapi sebenarnya banyak yang mengatakan bukan ketiadaan pangan yang menyebabkan perang, tapi kemampuan orang untuk mendapatkan pangan itu yang tidak ada. Misalnya begini, bisa terjadi orang tidak mendapatkan pangan yang cukup di dalam suatu wilayah yang subur karena ia tidak mempunyai uang untuk membelinya bukan karena pangannya tidak ada. Karena itu kemampuan daya belinya yang harus dibuat
Ada tidak, Pak hubungan antara kebebasan dengan kreatifitas?
Wah, enggak tahu saya kalau itu.
Kita kan sudah bebas dari penjajahan maupun dari orde baru tapi megapa kita malah tidak berkembang? Tidak ada yang mendapatkan nobel?
Kita tidak berkembang pesat, dibandingkan dengan masa saya dulu kalian ini sebenarnya luar biasa kemajuan yang kalian alami. Cuma memang kalau dibandingkan dengan pihak lain (negara maju) ya masih terus tertinggal, tapi bukan berarti kalian tidak bergerak, kalian juga bergerak pesat sekali. Yang menjadi masalah di kita sumber daya manusianya, di beberapa wilayah itu ada yang sangat tertinggal. Jadi sumber daya manusia harus lebih dipromosikan agar kita bisa mencapai kinerja ekonomi yang bagus. Tidak ada perkembangan teknologi yang baik kalau sumber dayanya tidak baik. Namun, membangun sumber daya itu tidak bisa cepat.
Jadi, apa yang harus dilakukan oleh Indonesia?
Pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan, jadi tidak hanya sekadar lulus SD, tapi juga terus berlangsung sampai ke universitas.
Tapi, tingkat keinginan generasi muda akan kuliah itu tidak tinggi, Pak...
Enggak. Enggak. Saya tahu benar, kalian ini tinggi minat sekolahnya.
Tapi, rata-rata itu bila ditanya, pasti lebih memilih untuk kerja daripada...
Ya, tapi kan itu hasil dari pendidikan, harusnya begitu, bukan berarti anak SD harus kerja. Jadi, sebaiknya memang harus mendapatkan pendidikan di atas SMA. Kalau tidak, ya mau gimana?. Sudah itu, sebelum dia masuk SD, mungkin gizinya kurang waktu dia masih balita kalau gizinya kurang waktu balita itu, ya dampaknya nanti 15-20 tahun mendatang, enggak bisa lama mikir dia. Kalau sudah mikir itu ngantuk dia macam saya. Ha ha ha.
Berarti pendidikan dan nilai gizi dulu yang harus diperbaiki?
Yaiya kan, itu kan uang keluar. Yang namanya pembangunan manusia baru akan dipetik keuntungannya setelah 15-20 tahun dan selama 15-20 tahun itu dia kan sekolah terus, uang keluar terus, saya kira itu yang menjadi masalah kita.
Menurut Bapak, ada tidak kemungkinan Indonesia memperoleh nobel perdamaian 5 atau 10 tahun ke depan? Sedangkan generasi muda kita ini, ya suka banyak yang tawuran. Itu bagaimana?
Ya itu menjadi tantangan kita. Tapi kalau dilihat secara normal, itu tidak mungkin, kecuali kalau ada sesuatu yang sangat berkembang.
Menurut Bapak, kira-kira kapan kita bisa memperoleh nobel bila dilihat dari kondisi Indonesia seperti ini?
Ya enggak tahu. Kau kira saya ini Tuhan. Ha ha ha.
Menurut Bapak, ada tidak tokoh di Indonesia yang pantas untuk memperoleh penghargaan nobel perdamaian?
Tidak, tidak ada.
Tidak ada? Kenapa memang, Pak?
Ya harus dapat “nobel” dulu dari Indonesia.
Bapak itu kan sering membahas tentang neoliberalisme. Apakah ada kaitannya dengan perdamaian dunia?
Sekarang masalah terbesar itu karena pasar itu sangat kuat, semua orang kalau bisa berbisnis semua dihitung berdasarkan untung-rugi. Kadang ada dalam kehidupan itu tidak untung-rugi, seperti kesetiaan, itu kan bukan sesuatu yang tidak harus dibuat berdasarkan untung-rugi, kemudian sikap patriotik. Jadi, ada beberapa hal yang tidak bisa dibisniskan, seperti kesetiaan, cinta, rasa sayang, pengabdian.
Selaku dosen, apa yang sudah bapak lakukan untuk ikut serta menciptakan perdamaian dunia?
Saya pikir mulai saja dari hal yang terkecil, dari keluarga. Tidak boleh ada kekerasan.
Dari pengajaran Bapak menjadi dosen?
Ya mengajarkan bahwa tidak mudah untuk menciptakan perdamaian. Hal yang paling penting perdamaian itu harus dipahami dari proses dialog dan menyelesaikan semua perbedaan itu melalui perundingan kalau bisa dan jalan-jalan demokratis. (Dina Aqmarina Y)


Kamis, 08 November 2012

Dr. Yulius Purwadi Hermawan, Drs, M.A., Ph.D. : Penciptaan Perdamaian Menjadi Lebih Panjang



Tepat tanggal 12 Oktober 2012, Komite Nobel Norwegia  memutuskan memberikan penghargaan Nobel Perdamaian kepada Uni Eropa atas peranannya menjaga perdamaian di kawasan benua biru tersebut. Sayangnya, keputusan Komite Nobel tersebut disambut dengan berbagai kritikan karena dianggap kurang tepat mengingat kondisi negara-negara benua biru tersebut sedang dilanda krisis ekonomi yang hebat.
Menurut Wakil Dekan 1 Bidang Akademik & Kemahasiswan Fisip Unpar, Dr. Yulius Purwadi Hermawan, Drs, M.A., Ph.D,. Kontroversi seperti ini akan terus berlanjut karena sifat penghargaan Nobel itu sendiri yang misterius. “Saya mencoba memahami filsafat dibelakang pemberian Nobel Prize yang selalu misterius, tapi satu hal yang kita pahami adalah jasa mereka untuk mendorong perdamaian dunia,” ucapnya. Wawancara ini dilakukan pada hari Senin (5/11) di ruang Wakil Dekan 1 Bidang Akademik & Kemahasiswaan Fisip Unpar, Jl. Ciumbuleuit No. 94, Bandung pukul 10.14 WIB. Dengan santai sambil dibumbui beberapa guyonan kritis, ia menjawab pertanyaan yang saya berikan.
Bagaimana pendapat Anda mengenai terpilihnya Uni Eropa sebagai peraih Nobel Perdamaian 2012?
Saya mungkin agak bersepakat dengan diberikannya Nobel Prize kepada Uni Eropa. Mereka sudah 60 tahun sejak tahun 1950-an memperjuangkan perdamaian paling tidak di Eropa. Uni Eropa lahir dari sebuah impian pasca perang dunia ke-II yang impiannya simple, yaitu jangan sampai terjadi perang dunia ke-III.Dan jika kita melihat kembali sejarah, terbukti perang dunia ke-III tidak terjadi.Dalam hal ini saya kira cukup beralasan bila Uni Eropa diberikan pengharagaan tersebut.
Apakah ini suatu keputusan yang tepat mengingat kondisi negara-negara anggota Uni Eropa sendiri yang saat ini sedang dilanda krisis ekonomi?
Kalau kita melihat pemilihan siapa pemenang Nobel Prize, itu juga ada unsur politis.Jadi tidak harus seseorang yang sudah menyelesaikan atau berjasa menyelesaikan perdamaian. Bisa saja itu dimaksudkan untuk mendorong proses penciptaan perdamaian menjadi lebih panjang. Contoh, ketika tokoh-tokoh dari Timor Leste menerima hadiah tersebut tahun 1996. Pada saat itu masa depan Timor Leste kan belum jelas. Tapi ada satu hal yang diharapkan dengan pemberian hadiah nobel ini. Adalah tujuannya tercapai, dan akhirnya Timor Leste mencapai perdamaian dengan sega konsekuensinya lepas dari Indonesia
Terkait dengan Uni Eropa, memang tugas mereka belum selesai.Masih ada konflik internal disetiap anggota Uni Eropa.Kita lihat di Spanyol ada Basque, di Inggris bahkan ada Irlandia dan Skotlandia.Tapi dengan mendapat hadiah ini dorongan untuk menuntaskan konflik tersebut semakin besar. Dan untuk masalah krisis ekonomi pun berlaku sama.
Menurut wasiat Alfred nobel, seharusnya penghargaan nobel perdamaian diberikan kepada pihak-pihak yang berjuang untuk mewujudkan perdamaian antar bangsa-bangsa dan bukan di wilayahnya sendiri, tanggapan Anda mengenai hal tersebut?
Ini yang saya sebut misteri dari penghargaan itu, ditentukan oleh sekelompok komite yang alasanya persisnya kita tidak tahu. Namanya perdamian dunia itu kan bukan sekedar perdamaian wilayah, tetapi kalau saya mencoba memahami keputusan komite Nobel. Perdamaian global kan dimulai dari perdamaian wilayah. Dan menurut saya komite Nobel juga sudah melihat peran Uni Eropa yang sifatnya sudah global.misalnya yang terakhir Uni Eropa teriak-teriak tentang masalah Rohingya di Myanmar.Ini membuktikan bahwa Uni Eropa sudah menjadi aktor global.Di afghanista Uni Eropa juga berperan dalam reformasi kepolisian.
Apakah keputusan yang dibuat oleh Komite Nobel ini mencederai semangat perdamaian yang dimaksud Alfred Nobel?
Saya tidak tahu persis apakah ini mencederai atau tidak.Mungkin dari berbagai pertimbangan kemaenagan ini yang dinilai tidak mencederai wasiat tersebut.
Kontroversi seperti ini pun pernah terjadi ketika Barack Obama meraih penghargaan Nobel perdamaian pada tahaun 2009, apakah ini menandakan adanya penurunan kredibilitas pada komite nobel itu sendiri?
Sejauh dia masih konsisten dengan visi dan misi pemikiran Alfred,is okey.
Adakah indikasi permaianan politis dalam kemenagan Uni Eropa sebagai peraih nobel perdamaian tahun ini?
Yang Uni Eropa saya tidak tahu, tapi untuk yang laian, saya rasa ada.Contohnya seperti yang saya sebut tadi di Timor Leste.Politis kalau tokohnya kontroversial.
Apa pandangan Anda tentang ditolaknya pengajuan Turki sebagai anggota Uni Eropa?
Pertama ini memang haknya Uni Eropa.Argument resmi kenapa ditolak memang karena belum siap. Kesiapan itu dilihat dari beberapa indikator seperti ekonomi dan sistem politiknya, lalu kesiapan menyususn kebijakan luar negeri  bersama Uni Eropa. Terkait Turki ini menjadi kontroversi dengan status “muslim-nya” sedangak kebanyakan anggota uni Erpa yang lain adalah “Kristen”. Ini menjadi isu dikalangan internasional, bagaimana mungkin negara yang berbeda ideologi dan agama bisa bersatu. Tapi kalu kita melihat objektif, apakah bergabungnya turki secara ekonomi tidak menggangu perekonomian Uni Eropa secara eseluruhan. Tapi dengan status Turki sebagai calon anggota itu sudah cukup menunjukanadanya itikad baik dari Uni Eropa terhadap isu ini.
Menurut Anda, apakah negara-negara anggota Uni Eropa sudah menerapkan azaz hak asasi manusia secara nyata?
Konsep hak asasi manusia itu adalah konsep yang berkembang.Uni Eropa juga berkembang, tapi sebagai divusi regional, saya kira Uni Eropa mempunyai konvensi hak asasi manusia yang cukup maju.Ini menjadi foundamental jati diri Uni Eropa yaitu value comma value.


Adakah kebijakan-kebijakan Uni Eropa yang berdampak kepada indonesia?
Ada. Pertama adalah ketika Uni Eropa menyikapi kasus Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh, Uni Eropa bersama ASEAN bersama-sama membangun ASEAN Monitoring Mission (AMM). Dan Uni Eropa juga cukup serius menyikapi hal tersebut terbukti dengan beberapa sumbagan dana yang digunakan sebagai pelerai konflik tersebut. kedua, saat terjadi tsunami. Uni Eropa cukup serius membantu Indonesia melalui bantuan dana-dana sebagai pembangunan Aceh pasca tsunami.
Sejak diselenggarakannya penghargaanini pada tahun 1901, belum pernah ada tokoh atau organisasi dari Indonesia yang berhasil mendapatkan penghargaan nobel khususnya di bidang perdamaian, menurut Anda mengapa hal itu bisa terjadi?
Pertama, ada orangnya tidak Indonesia yang mempunyai impact global .mungkin kita bisa menyebut nama-nama seperti Soekarno, Soeharto, serta Gus Dur. Dan mungkin  komite melihat belum ada yang layak dari Indonesia. Dan kita bisa berkaca mungkin mereka benar.

Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2006 pernah masuk kedalam nominator peraih nobel perdamaian, tetapi akhirnya penghargaan tersebut jatuh kepada Muhammad Yunus. Pandangan Anda mengenai hal tersebut?
Grameen Bank itu kan popularitasnya sudah luar bisa dan menjadi pendekatan baru untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Saya kira tidak salah pada tahun tersebut Muhammad Yunus yang menjadi pemenangnya.
Adakah tokoh di Indonesiayang saat ini menurut Anda layak mendapatkan Nobel khususnya dibidang perdamaian?
Sulit. Orang seperti Jusuf kalla serta Gus Dursaya kira masih mempunyai beberapa kekurangan untuk bisa mendapatkan penghargaan nobel ini. Barangkali yang jadi permasalahan adalah di Indonesia belum ada  tokoh serta organisasi yang mempunyai impact global.. Tapi saya berpikir begini, ada orang cocok atau tidak cocok buat saya yang penting ia punya komitmen untuk proses perdamaian paling tidak di negeri ini tanpa harus memikirkan memenang hadiah Nobel. Itu namanya intensional. Pahlawan itu lahir dari sebuah situasi dima ia merasa terpanggil untuk melakuak itu, tanpa ada pamrih.
Menurut kacamata Anda, apakah Indonesia cukup aktif berkontribusi dalam menjaga perdamaian di kawasan ASEAN?
Saya sebagai orang yang sedang mempelajari hal tersebut saya melihat sudah lumayan walupun belum maksimal. Ada yang dilakuakan indonesia dengan kekuatan indonesia sendiri. Misalnya, ketika konflik Thailand dengan kamboja , perwakilan kita rajin bertemu dengan pemimpin kedua negara tersebut. lalu kemudian di konflik Laut Cina Selatan. (Nurjiyanto)

Nurhalim: Sepuluh Tahun Mengajar Baca Al-Quran dengan Huruf Braille



Bandung, Minggu (7/10) - Hujan rintik-rintik menemani perjalanan saya menyusuri asrama tunanetra yang dikelola oleh YayasanPenyantun Wyata Guna di  Jl Padajajaran No 52 Bandung. Suara anak-anak mulai kedengaran ketika memasuki area asrama, dan benar saja ada sekitar enam anak yang sedang bermain kejar-kejaran. Salah seorang dari mereka yang kemudian mengantarkan saya ke tempat pembelajaran Al-Quran dengan huruf braille. Ruangan tersebut memiliki panjang sekitar lima meter dan luas tiga meter dengan dinding berwarna hijau. Terdapat tiga jendela yang terbuat dari kayu berwarna coklat berbentuk persegi panjang dan fentilasi berbentuk setengah lingkaran. Gorden berwarna pink tua menutupi setengah jendela mengakibatkan berkurangnya cahaya yang masuk ke ruangan. Tidak ada lampu yang dinyalakan mungkin karena orang-orang yang berada diruangan tidak ada yang membutuhkan lampu. Ya, mereka adalah penderita tunanetra (orang yang tidak dapat melihat).
Saya disambut dengan jawaban salam dari seorang lelaki berpakaian kemeja biru muda dan berulit sawo matang. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Nurhalim. Nurhalim tidak sendirian di ruangan itu, ia ditemani oleh dua orang temannya. Mereka sedang beristirahat sembari berbincang-bincang ketika saya datang. Saat saya menanyakan umur nya, Nurhalim tidak tahu pasti berapa, “Saya lahir tahun 1981, saya juga tidak tahu pasti, Neng,” jawabnya.  Ia bercerita bahwa ia telah tinggal di asrama Wiyata Guna sejak September tahun 1998. Lelaki yang mungkin berumur 31 tahun ini berasal dari Cianjur, tidak jauh memang dari kota Bandung, tetapi Nurhalim mengaku sangat jarang pulang ke rumah nya di Cianjur, alasannya “ Enak disini Neng, banyak teman”. Selain itu ia juga sudah terbiasa dengan aktivitas-aktivitas nya sehari-hari di asrama. Bila ada waktu senggang ia gunakan untuk menulis metode pembelajaran, ia mengaku bahwa ia senang mengajar. Kadang ia mendapat permintaan untuk mengajarkan membaca dan menulis huruf braille secara privat. Selain itu, Nurhalim juga bekerja sebagai terapi pijat
Nurhalim menjelaskan bahwa di Widya Guna terdapat dua jenis pendidikan bagi para tunanetra, yaitu pendidikan formal dan pendidikan non-formal. Pendidikan formal didapat melalui sekolah dari tingkat SD, SMP, dan SMA, sementara pendidikan non-formal didapatkan dari latihan kerja/ kejuruan, belajar musik, bahasa arab, Al-Quran, dan lainnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB saat itu, para santri mulai berdatangan. Nurhalim bersiap-siap memulai pengajian. Mereka duduk melingkar, saling bersenda-gurau dengan menggunakan bahasa sunda sebelum memulai pengajian. Nurhalim membagi-bagikan Al-Quran juz 26. “Karena huruf Braille ditulis diatas kertas yang lebih tebal, Al-Quran dibagi-bagi per-juz, tidak seperti Al-Quran biasa,” Ujar Nurhalim. Al-Quran yang ditulis dengan huruf Braille polos tanpa tulisa bila dilihat dari jauh, tetapi bila dilihat dari dekat, akan terlihat titik-titik yang menonjol dari kertas seperti kertas yang ditusuk dengan jarum. Rintik hujan perlahan menghilang, Nurhalim memulai pengajian, dan saya kembali ke Jatinangor. (Fairuz Rana Ulfah)