Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Pelantikan Gubernur DKI Jakarta Baru



Senin, 15 Oktober 2012 adalah hari penting untuk warga Jakarta. Pada hari tersebut adalah hari pelantikan gubernur dan wakil baru DKI Jakarta yang dimenangkan oleh pihak Joko Widodo dan Basuki Tjahja atau yang biasa disebut Jokowi-Ahok.Proses pelantikan tersebut berlangsung di Gedung DPRD DKI Jakarta pada pukul 10.00-12.55 WIB. Jakarta baru, ya, itulah yang diidamkan dan diharapkan oleh warga Jakarta untuk sang pemimpin baru. Pasangan yang terkenal dengan baju kotak-kotak tersebut sangat dinantikan program kerjanya oleh seluruh warga Jakarta yang haus akan perubahan di ibu kota.
Berbicara mengenai program kerja dari pasangan Jokowi-Ahok pada saat masa kampanye mereka menjanjikan untuk Jakarta yang lebih baik. Seperti apakah Jakarta yang lebih baik tersebut? Pendidikan gratis lewat Kartu Pinta, Kesehatan gratis lewat Kartu Sehat, dan Penataan permukiman kumuh lewat Kampung Susun merupakan program prioritas yang disusun oleh pasangan Jokowi-Ahok. Semoga saja mereka mengingat baik apa yang pernah mereka janjikan kepada warga Jakarta dan tidak terlena dengan kehidupan yang ada di ibu kota.
Di sisi lain, terdapat lembaga yang masih mempertanyakan mengenai program kerja yang akan dilakukan oleh Jokowi-Ahok. Fraksi-fraksi yang berada di DPRD DKI Jakarta memberikan kadar dukungan yang berbeda-beda. Beberapa fraksi tersebut pun masih menganggap gubernur baru belum matang dalam konsep pembangunan dan mengatakn untuk tidak usah terburu-buru. Program-program yang dicanangkan oleh Jokowi juga dinilai masih memiliki kesamaan dengan gubernur sebelumnya. Program Kartu Pintar dan Kartu Sehat dianggap hal yang paling realistis dalam program kerja Jokowi menurut  M. Guntur dari Fraksi Hanura Damai Sejahtera. Sedangkan program lainnya mengenai pembangunan kam pung susuh di Bukit Duri, Jakarta Selatan tidak lah realistis.
Namun, hal ini tidak menjadikan penghalang bagi Jokowi-Ahok untuk melakukan aksi Jakarta Baru. Mereka akan melakukan apa yang terbaik untuk Jakarta. Kita sebagai warga Jakarta hendaknya mendukung karena kalau bukan kita sendiri siapa yang akan melakukan perubahan tersebut. Semoga selama masa jabatan gubernur dan wakil gubernur baru ini dapat memberikan perubahan untuk Jakarta menjadi lebih baik lagi kedepannya. Hidup Jakarta Baru! (Febianca Putri)

Budaya dan Korupsi



Pada hari Rabu, 10 Oktober 2012 saya mengikuti seminar mengenai Korupsi dan Budaya yang diselenggarakan oleh Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia dengan Bambang Widjodjanto sebagai pembicara. Dalam seminar tersebut membicarakan akar permasalahan korupsi dan membahas dari mana korupsi terbangun. Sebuah film ditampilkan ketika berlangsungnya acara. Film tersebut berjudul “Selama Siang, Risa”. Film yang buat oleh KPK itu menceritakan sebuah keluarga yang tidak berkecukupan dengan Bapak Woko (ayah) sebagai penanggung jawab sebuah gudang di kantornya dan Bu Woko (ibu) sebagai tukang jahit panggilan yangmemiliki kedua orang anak, dengan anak pertama bernama Risa. Film tersebut memiliki alur mundur yang menceritakan sang ayah yang ingin di suap oleh seorang juragan beras karena pada saat itu harga beras ingin naik dan ada orang yang ingin menimbun beras. Karena gudang yang disewanya tidak mencukupi maka ia ingin menyewa gudang dari Bapak Woko. Bapak Woko memang terkenal dengan idealis nya yang kuat untuk permasalahan suap menyuap. Walaupun keluarganya sedang dalam kesulitan karena tidak adanya beras dan tidak memiliki uang tetapi Bapak Woko tetap memegang teguh tanggung jawabnya sebagai penanggung jawab atas gudang yang ditanganinya. Ketika sang juragan beras menyodorkan uang suap kepada Bapak Woko dirumahnya, hal tersebut dilihat oleh Risa sang anak. Bapak Woko menolak menerima suap tersebut dan membuat sang juragan pulang dengan hasil kosong. Hal tersebut direkam oleh Risa sebagai anak dan di dalam otaknya terekam bahwa kita harus mentaati aturan yang ada sebagai pemimpin dan menjadi penanggung jawab yang baik. Ini mungkin sebuah contoh kecil walaupun seorang Bapak Woko yang sedang mengalami kesulitan tetapi dia tetap menjaga nilai-nilai terhadap kebenaran. Ia pun mengatakan pada film tersebut bahwa ia tidak akan menerima hal tersebut atau sampai mati ia akan menyesalinya. Dan ketika Risa dewasa sudah bekerja ia tetap berpegang teguh pada kebenaran dan menjaga nila-nilai kebenaran tersebut.
Dari film tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa seorang yang berkorupsi di Indonesia sekarang ini bisa kita lihat dari sisi keluarganya. Bagaimana kehidupan basic keluarganya karena yang membentuk karakter seorang adalah keluarga mereka sendiri. Bisa kita lihat para politisi yang terjerat kasus korupsi sekarang ini, apakah mereka memiliki hubungan baik dengan keluarganya? Jika baik apakah keluarganya tersebut membentuk karakter pribadi dari seorang dengan nilai kebenaran? Semua orang pastinya memiliki kebutuhan, tetapi jangan jadikan alasan kebutuhan tersebut untuk membuat pribadi baik anda menjadi rusak. Jadi, untuk menghindari adanya korupsi yang telah berbudaya di Indonesia ini maka bentuklah karakter diri anda dengan nilai kebenaran. Pribadi yang baik adalah ia yang berasal dari lingkungan yang baik. Ciptakanlah lingkungan yang baik itu disekitar anda sehingga meminimalisir adanya pribadi-pribadi buruk yang merugikan untuk bangsa dan negara tercinta kita, Indonesia. (Febianca Putri)

Panasnya Bursa Cagub Jabar 2013


Setelah September kemarin Jakarta menentukan Joko Widodo – Basuki Tjahja Purnama (Jokowi-Ahok) sebagai Gubernur DKI periode 2012-2017. Kini giliran tetengganya Jabar yang mulai mempersiapkan diri menjelang diadakannya Pilkada Jabar Februari 2013 nanti. Beberapa bakal calon gubernur (Bacagub) kini mulai meramaikan bursa Calon gubernur (Cagub) Jabar.  Ahmad Heryawan selaku gubernur Jabar peride 2008-2013 kembali akan digusung oleh partai PKS sebagai Cagub Jabar periode 2013-2018. Sementara wakilnya saat ini yang menjabat sebagai Wagub Jabar Dede Yusuf akan digusung oleh partai Demokrat untuk menjadi Cagub.  Untuk pertain Golkar, mereka mengusung mantan Bupati Indramayu, Irianto MS Syafiuddin alias Kang Yance. Sementara Gerindra mengusung Teten  Masduki yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Transparency International chapter Indonesia. Yang menarik dari Bursa Bacagub Jabar ini adalah, para kandidat tersebut digadang-gadang akan mengajak para pelaku dunia hiburan sebagai pendampingnya dalam Pilgub Jabar. Ahmad Heryawan saat ini dikabarkan sedang mendekati aktor senior Deddy Mizwar sebagai calon pendampingnya. Sementara Dede Yusuf dan Teten sedang mencoba membujuk artis yang saat ini menjadi politisi PDI-P Rieke Dyah Pitaloka. Sebelumnya ada musis senior yang akhirnya mundur dari bursa Bacagub Jabar yakni Deddy Dores. Muncul pertanyaan, akankah para Cagub ini memilih para aktor/artis yang sudah mempunyai kepopuleran sebagai alat untuk memenangkan suara dalam pemilihan nanti.  Sebagai contoh di Pilkada Banten kemarin, gubernur terpilih Ratu Atut Chosiyah mengandeng aktor senior Rano Karno sebagai pendampningnya di Pilkada tersebut. dan hasilnya, Ratu Atut Choisiyah terpilih menjadi Gubernur Banten dan Rano Karno sebagai Wakilnya untuk periode 2012-2017. Kepopuleran aktor/artis memang sering dimanfaatkan oleh para politisi untuk dujadikan suatu alat komunikasi politik dengan maksud memperoleh sebanyak-banyaknya suara. Yang jadi masalah adalah apakah artis yang digandeng tersebut mempunyai pemahaman kuat tentang politik. Itu yang masih dipertanyakan. Walupun tingkat kepopulerannya melampaui  para pengusungnya, tetapi pengetahuan akan cara serta pemahaman politik para artis masih diragukan. Yang malah menjadi stigma masyarakat adalah para artis ini pandai berakting. Nah apabila akting sudah dibawa-bawa ke urusan politik,  akan menjadi apa negeri ini. Tapi cara para politisi mengandeng para artis sebagai pendampingnya itu sah dan tidak melanggar peraturan. Idealnya para pelaku politik haruslah mempunyai latar belakang bidang politik juga supaya mempunyai suatu idealism tersendiri yang sesuai dengan azaz-azaz politik indonesia. (Nurjiyanto)